lirik lagu memories

Hasil gambar untuk lirik lagu memories

Here’s to the ones that we gotCheers to the wish you were but you’re notCause the drinks bring back all the memoriesOf everything we’ve been throughToast to the ones here todayToast to the ones that we lost on the wayCause the drinks bring back all the memoriesAnd the memories bring backMemories bring back you
There’s a time that I remember when I did not know no painWhen I believed in foreverAnd everything would stay the sameNow my heart feel like DecemberWhen somebody say your name’Cause I can’t reach out to call youBut I know I will one dayHey
Everybody hurts sometimes, everybody hurts somedayEh ehEverything will be alright, go on raise a glass and sayEh
Here’s to the ones that we gotCheers to the wish you were but you’re not’Cause the drinks bring back all the memoriesOf everything we’ve been throughToast to the ones here todayToast to the ones that we lost on the way’Cause the drinks bring back all the memoriesAnd the memories bring backMemories bring back you
Doo do do doo
Memories bring backMemories bring back you
There’s a time that I remember when I never felt so lostWhen I felt that all the hatred was too powerful to stopNow my heart feel like an emberAnd its lighting up the darkI’ll carry these torches for yaThat you know I’ll never dropYeah
Everybody hurts sometimes, everybody hurts somedayEh ehEverything will be alright, go on raise a glass and sayEh
Here’s to the ones that we gotCheers to the wish you were but you’re not’Cause the drinks bring back all the memoriesOf everything we’ve been throughToast to the ones here todayToast to the ones that we lost on the way’Cause the drinks bring back all the memoriesAnd the memories bring backMemories bring back youDoo do do doo
Memories bring backMemories bring back youDoo do do doo
Memories bring backMemories bring back youYeah yeah yeah
Memories bring backMemories bring back you

sumber:

lirik lagu lugu

Hasil gambar untuk lirik lagu lugu

[Verse 1]
Ku nikmati kebahagiaan ini
Tak mengapa tak ada dirimu
Ada teman-teman yang menemani
Aku sudah tak bodoh lagi

[Pre-Chorus]
Seperti waktu kau bohongi aku
Sampai ku tertipu
Tapi akhirnya ku move on darimu

[Chorus]
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry, ku sudah lupakan kamu

[Verse 2]
Akhirnya ku bisa lupakan kamu
Kamu yang pernah baperin aku
Cukup cukup sudah tak mau lagi
Aku sudah tak bodoh lagi

[Pre-Chorus]
Seperti waktu kau bohongi aku
Sampai ku tertipu
Tapi akhirnya ku move on darimu

[Chorus]
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry ku sudah lupakan kamu

[Bridge]
Takkan lagi ku tertipu
Oleh bujuk rayumu
Takkan mempan gombalanmu lagi

[Chorus]
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry ku sudah lupakan kamu
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry ku sudah lupakan kamu
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry ku sudah lupakan kamu
Ku memang masih lugu, hanya tahu kamu
Dan tak berfikir untuk dekat yang lain
Kini ku tau kamu, ku tau aslimu
Sorry sorry ku sudah lupakan kamu

sumber:

Review Film Bebas: Melayangkan Nostalgia, Merindu Masa Remaja

review-film-bebas-melayangkan-nostalgia-merindu-masa-remaja

Persahabatan di masa sekolah memang tidak ada duanya. Hal-hal menyenangkan, sedih, canda-tawa semuanya jadi satu paket komplit. Tidak ada mesin dan ruang waktu yang bisa mengembalikan semua itu. Miles Films lewat sutradara Riri Riza dan Produser Mira Lesmana kini melakukannya di film berjudul Bebas.

Diadaptasi dari salah satu film laris Korea, berikut ulasan atau review film Bebas yang tayang di bioskop, 23 Oktober 2019.

Selalu ada yang baru dan selalu ada yang lama. Kehidupan Vina (Maizura), sebagai seorang remaja putri yang baru pindah sekolah membuatnya terkenang dengan masa-masa menyenangkan di Sumedang. Sebuah tempat yang jauh dari keriuhan ibukota, tempat ia bersekolah kini.

Polos lugu menggemaskan adalah gaya Vina. Maklum, datang dari sebuah tempat yang tidak familiar menuju tempat baru pasti akan penuh dengan kontradiksi. Tak ada geng-gengan. Tak ada nongkrong di pusat perbelanjaan dan lain-lain.

Namun, di sini, Vina mulai menemukan hal-hal baru. Bermula, terus dirundung sebagai gadis polos dan lugu, Vina kemudian bertemu dengan Kris (Sheryl Sheinafia), yang tak sepolos Vina. Namun, kerap dirundung teman-teman sekolahnya.

Ah, bukan hanya Kris. Masih ada Suci (Lutesha), yang tampil bak idola sekolah. Selalu dipuja, dipetrus, begitu istilah masa kini.  Geng Bebas juga punya Jojo (Baskara Mahendra) yang kalau ngomong selalu seblak. Lidahnya tajam. Tak ada yang tak nyelekit kalau Jojo sudah ngomong. Jessica dengan segala gayanya yang memang sesuai dengan remaja di masa itu, dan satu lagi, Gina (Zulfa Maharani) yang super-super jutek.

Pertemuan antara Vina dan teman-teman barunya memang terkesan klise dan receh. Namun, dari sinilah semuanya dimulai. Perjalanan cerita cinta dan persahabatan. Sebuah kisah nostalgia yang selama ini tersimpan dan dipendam saja. Dibiarkan senyap.

Sampai pada akhirnya, mereka bertemu lagi. Bukan hanya sekadar nostalgia, namun mengurai kisah-kisah klasik yang sebelumnya terbenam. Sekali lagi, tayang di bioskop mulai tanggal 3 Oktober 2019 di seluruh bioskop Indonesia, cek jadwal segera di BookMyShow.

Karakter Kuat, Khas Mirles

film-bebas-mengulang-waktu-mengisahkan-rasa

Apa yang paling menyenangkan dalam setiap film yang digarap oleh Mirles? Karakter yang begitu kuat. Sedikit kembali ke masa lalu, karakter para remaja yang mengisahkan cinta dan persahabatan, bolehlah melihat kembali film Ada Apa dengan Cinta baik yang pertama dan yang kedua.

Karakter Cinta dan Rangga saja misalnya. Begitu sangat-sangat kuat dan menggambarkan bagaimana kehidupan remaja di masa lalu. Pun, tak kalah apiknya, karakter keduanya tampil baik ketika diceritakan sudah dewasa.

Lalu bagaimana dengan film Bebas? Ini yang kembali menjadi kekuatan filmnya. Tak hanya sekadar mengusung cerita film adaptasi dari Korea, namun, kekuatan karakter ini yang menjadi kunci di sepanjang film.

Nama-nama seperti Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Pricilla, Lutesha, Zulfa Maharani, Baskara Mahendra mungkin belum terlalu familiar. Namun, inilah tangan dingin dari Mirles yang mampu menciptakan karakter kuat pada nama-nama pemeran film Bebas yang masih muda.

Sementara itu, Marsha Timothy, Susan Bachtiar, Indi Barends, Widi Mulia adalah nama-nama yang mulai beken di era ‘90-an. Kini ibaratnya, mereka sudah jadi emak-emak. Namun, lagi-lagi para senior ini mampu memainkan peran Vina, Kris, Jessica, Suci dan Gina yang sudah dewasa juga dengan sangat baik. Belum terlupa tentunya, ada Baim Wong yang berperan sebagai Jojo yang sudah dewasa juga cukup baik di film ini.

Beberapa bagian film ini  terasa canggung. Namun, tertutup karena plot ceritanya juga disajkan dengan baik, dua cerita dengan timeline yang berbeda mampu tertata dengan baik. Hampir semua pemain-pemainnya tampil dengan sangat baik. Sedikit tambahan, karkaterisasi masing-masing pemeran Vina, Kris, Jessica, Suci dan Gina yang masih remaja pun disesuaikan dengan fakta dari kehidupan nyata.

Maizura misalnya. Ia memang pendatang di kota Jakarta. Maklum Maizura adalah remaja yang datang dari Makassar dan pindah ke Jakarta. Sementara itu, masih ada Agatha Pricilia yang selalu heboh sendiri. Sisanya, siap-siap larut dalam nostalgia dan kamu bisa mengeluarkan celetukan “eh, gue dulu kayak gini.”

Nostalgia Masa Sekolah

review-film-bebas-melayangkan-nostalgia-merindu-masa-remaja

Tak ada ceriwisan di media sosial Twitter. Tak ada aksi panjat sosial atau pake quote-quote bijak yang kemudian di posting lewat Instagram. Masa sekolah di era ’90-an memang tak ada yang begini. Kongkow adalah senjata utama untuk update informasi terbaru atau mengkritik hal-hal yang sudah mulai merusak tatanan sosial. Memicu konflik atau menambah teman. Lepaskan, dan bebas. Gagasan ini dituangkan dengan baik oleh Mirles melalui Bebas.

Gambaran ini dialihkan di dalam film Bebas yang menggambarkan masa sekolah di tahun ‘90-an. Menonton film ini akan membawa kita bagaimana percakapan atau perdebatan yang saling bertatap muka merupakan cara terbaik untuk mengerti dan saling memahami di antara begitu banyaknya perbedaan yang terjadi.

Geng Bebas melakukannya itu. Jangan bohong kalau kamu yang bersekolah di masa-masa itu tidak mengakui semua ini. Melalui film ini kamu akan digiring dengan masa-masa nostalgia dimana kamu bisa berkomunikasi, gelisah, saling curhat atau berseteru tanpa komunikasi perangkat gawai.

Momentum yang tidak hanya sekadar membawa historia masa lalu. Masa-masa sekolah di SMA adalah tentang bagaimana memahami tentang cinta monyet, atau berseteru dengan kelompok yang tidak kita suka. Geng Bebas adalah cara mereka mengajak penonton bernostalgia dalam senyap. Haru dan rindu menjadi satu. Mungkin, setelah ini kamu akan kembali membuka laman Facebook dan mencari teman-teman di masa sekolah. Atau, membuka kembali grup WhatsApp yang berisikan teman-teman di masa sekolah dan mengetikkan “Kuy”.

Indonesia Banget

review-film-bebas-melayangkan-nostalgia-merindu-masa-remaja

Adaptasi dari film Korea berjudul Suny, Bebas punya gayanya sendiri. Selain kekuatan karakter yang dimainkan dengan apik oleh masing-masing pemeran, film ini mencoba mengenyampingkan kekuatan film-film Korea. Suasana yang Indonesia banget dihidupkan di film ini.

Kehidupan para remaja di masa lalu memang hanya bisa diceritakan dikala reunian. Namun, di film ini visualisasi bagaimana kehidupan remaja Indonesia di masa itu mampu diciptakan dengan sangat baik. Hal-hal detil seperti kepolosan, cuek, kegilaan, dan benar-benar bebas, sebebas-bebasnya.

sumber:

REVIEW: DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH (2011)

MD Pictures, rumah produksi yang sempat meraih sukses besar ketika merilis Ayat-Ayat Cinta (2008), yang kemudian memulai tren perilisan film-film drama bernuansa reliji di industri film Indonesia, sepertinya sangat berhasrat untuk mengadaptasi novel karya Buya Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, menjadi sebuah tayangan film layar lebar. Mereka bahkan rela menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menyelesaikan proses produksi dan dana sebesar Rp25 miliar untuk menampilkan tata produksi terbaik untuk mendukung pembuatan versi film dari salah satu karya paling populer di dunia sastra Indonesia tersebut. Hasilnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah menjadi sebuah film bertemakan kasih tak sampai dengan tampilan komersial yang sangat akut… seperti yang telah diduga banyak orang ketika nama Hanny R Saputra dilibatkan sebagai sutradara bagi film ini.

Di Bawah Lindungan Ka’bah memulai kisahnya dengan memperkenalkan Hamid (Herjunot Ali), seorang pemuda tampan, cerdas, saleh, berbudi pekerti tinggi namun terlahir dengan keadaan ekonomi yang berada di bawah garis kemiskinan. Untungnya, kehidupan Hamid dan ibunya (Jenny Rachman) selama ini cukup terbantu dengan keberadaan Haji Jafar (Didi Petet), seorang pria dermawan yang saleh serta cukup terpandang di sebuah kampung di provinsi Sumatera Barat yang masyarakatnya memegang teguh adat istiadat dan taat dalam menjalankan ajaran dan aturan agama. Haji Jafar bahkan membiayai pendidikan Hamid di sebuah sekolah agama bergengsi hingga Hamid akhirnya mampu menyelesaikan pendidikannya.

Dilema mulai mewarnai kehidupan Hamid ketika ia jatuh cinta dengan Zainab (Laudya Chyntia Bella), puteri jelita semata mayang dari Haji Jafar. Perbedaan status sosial yang begitu jauh antara keduanya membuat hubungan antara Hamid dan Zainab sepertinya tidak mungkin bersatu, walaupun keduanya sama-sama menyukai satu sama lain. Tidak hanya berhenti disitu, berbagai cobaan mulai mendera hubungan keduanya: mulai dari Hamid yang diusir dari kampungnya setelah dituduh telah ‘menyentuh’ Zainab secara tidak sopan hingga perjodohan Zainab dengan seorang pemuda anak saudagar kaya yang semakin memojokkan posisi Hamid. Hamid yang terusir dari kampung akhirnya meneruskan perjalanannya demi mewujudkan impiannya agar dapat menunaikan ibadah haji di Mekkah. Di saat yang sama, Zainab tetap menunggu kembalinya Hamid agar mereka dapat kembali menjalin hubungan kasih suci mereka yang telah terputus.

Diadaptasi oleh Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park, 2010) dan Armantono (Love Story), kisah cerita Di Bawah Lindungan Ka’bah memang memiliki cukup banyak perbedaan yang berarti jika dibandingkan antara jalinan kisah yang tertulis di novelnya. Kisah mengenai pengusiran karakter Hamid dari kampungnya serta karakterisasi antagonis dari karakter pria yang dijodohkan dengan Zainab merupakan bentuk penyesuaian konflik yang dilakukan Titien dan Armantono untuk menerjemahkan jalan cerita yang berlangsung di masa klasik menjadi sebuah jalan cerita dengan sentuhan yang lebih modern. Dialog-dialog yang terjalin antara setiap karakter juga dibentuk dengan dialog modern daripada menggunakan dialog berbentuk metafora maupun pantun seperti yang digunakan di versi novel – walaupun Titien dan Armantono beberapa kali tetap menyelipkan dialog-dialog bernada klasik tersebut pada beberapa bagian cerita.

Walau berusaha untuk menerjemahkan jalan cerita menjadi modern, Hanny R Saputra tetap mempertahankan latar belakang waktu cerita berada pada kisaran daerah Sumatera Barat di tahun 1920-an. Disinilah dana produksi sebesar Rp25 miliar – mari tidak berdebat dengan pernyataan yang telah dikeluarkan pihak produser tentang jumlah total biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk film ini – tersebut banyak digunakan. Tim produksi Di Bawah Lindungan Ka’bah memunculkan banyak properti yang akan memunculkan nuansa klasik daerah Sumatera Barat tersebut, mulai dari tata perkampungan Minang, pasar tradisional, tata kostum yang digunakan oleh setiap orang, bangunan surau dan sebuah kincir air – yang kemungkinan merupakan kincir air yang sama yang muncul pada film Hanny R Saputra sebelumnya, Love Story – hingga perekaan ulang suasana Mekkah lengkap dengan tiruan bangunan Ka’bah-nya. Cukup mampu bekerja dengan baik dalam membangkitkan suasana klasik tersebut, walaupun… dapat dipastikan bahwa tim produksi Di Bawah Lindungan Ka’bah masih menyimpan cukup banyak dana sisa produksi dari total bujet sebesar Rp25 miliar yang disediakan. Just saying.

Beberapa detil dalam penceritaan Di Bawah Lindungan Ka’bah – seperti penggunaan aksen Minang yang tidak konsisten di sepanjang film, dapat ditemukan walaupun tidak akan cukup mengganggu jika penonton tidak begitu menyadari hal tersebut. Namun, proses penceritaan film ini terasa lemah sekali di bagian pertengahan film, ketika karakter Hamid dikisahkan telah keluar dari kampung dan terus menerus digambarkan mengalami penderitaan yang mendalam akibat terpisah dari Zainab. Hanny gagal memberikan poin yang menarik dalam menampilkan sisi kepedihan karakter Hamid dan Zainab selama mereka terpisah. Ditampilkan dengan alur yang terlalu mendayu-dayu – sangat khas seorang Hanny R Saputra, tentunya – bagian ini menjadi begitu menjemukan untuk diikuti. Pun begitu, Hanny cukup berhasil dalam mengemas momen-momen drama tearjerker – sekali lagi, khas Hanny R Saputra, tentu saja – yang seringkali menjadi highlight tersendiri bagi Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Herjunot Ali dan Laudya Chyntia Bella cukup mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik di sepanjang film. Walaupun begitu, chemistry yang tercipta antara keduanya adalah sangat minim untuk dapat dirasakan penonton. Minimnya percikan daya tarik dari karakter Hamid dan Zainab sebagai pasangan kekasih cukup memberikan pengaruh pada kegagalan jalan cerita Di Bawah Lindungan Ka’bah dalam menjalin hubungan emosional yang mendalam pada penontonnya. Jajaran pemeran mendukung tampil tidak mengecewakan, dengan Jenny Rachman kembali hadir di industri film nasional dan tetap mampu memberikan permainan akting terbaiknya serta Tarra Budiman yang berperan sebagai sahabat Hamid yang sering muncul dan menyita perhatian.

Seperti film-film nasional lainnya yang memanfaatkan nuansa latar belakang daerah Indonesia sebagai bagian dari ceritanya, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga memberikan penampilan sinematografi yang cukup memikat. Di bawah arahan Ipung Rachmat Syaiful, tampilan gambar Di Bawah Lindungan Ka’bah tampil mempesona dalam menangkap nuansa alami daerah Sumatera Barat. Tya Subiakto Satrio sendiri juga mengisi deretan tata musik di film ini. Cukup berhasil dalam memberikan kedalaman emosional cerita pada beberapa bagian, namun lebih sering terdengar megah dalam mendayu-dayu pada banyak bagian film.

Dengan menerapkan beberapa baris kisah baru yang diterapkan pada kisah legendaris Di Bawah Lindungan Ka’bah, film yang diharapkan akan mampu mengikuti kesuksesan Ayat-Ayat Cinta ini harus diakui akan banyak mengecewakan para penggemar novelnya. Versi film Di Bawah Lindungan Ka’bah sangat terasa begitu modern dalam penceritaannya terlepas dari usaha Hanny R Saputra untuk mempertahankan nuansa tahun 1920-an di sepanjang penceritaan film ini. Hasilnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah lebih terkesan sebagai bagian dari deretan filmografi film-film romansa cengeng Hanny R Saputra daripada sebagai sebuah film yang mengadaptasi sebuah karya sastra bernuansa Islami legendaris. Departemen akting dan tata produksi tampil cukup dinamis, terlepas dari beberapa kekurangan yang muncul, namun karakterisasi yang lemah serta jalan cerita yang cenderung lamban dan bertele-tele membuat Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal untuk tampil istimewa seperti yang diharapkan.

Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011)

Directed by Hanny R. Saputra Produced by Dhamoo Punjabi, Manooj Punjabi Written by Titien Wattimena, Armantono (screenplay), Buya Hamka (novelStarring Herjunot Ali, Laudya Cynthia Bella, Niken Anjani, Tarra Budiman, Jenny Rachman, Widyawati, Didi Petet, Leroy Osmani, Ajun Perwira, Akhmad Setyadi Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Yoga Krispratama Studio MD Pictures Running time 121 minutes Country Indonesia Language Indonesian

sumber:

Review Film: Frozen 2

Review Film: Frozen 2

Jakarta, CNN Indonesia — Enam tahun setelah seri pertama, kisah petualangan kakak beradik Elsa dan Anna berlanjut lewat film Frozen 2.

Masih diarahkan sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck, kisah ini dibuat dengan latar musim gugur, tiga tahun setelah kejadian dalam seri yang pertama kali dirilis pada 2013 silam.

Perkembangan masing-masing karakter cukup kentara seiring pertumbuhan diri mereka. Dengan cerita yang lebih kompleks, Frozen 2 berhasil dikemas menjadi sebuah sekuel yang memenuhi ekspektasi dan menghibur.

Sepeninggal kepergian ayah dan ibunya, Elsa (disuarakan Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) kini hidup ditemani si boneka salju Olaf (Josh Gad) serta Kristoff (Jonathan Groff) dan si rusa kutub Sven di Istana Arendelle.

Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang.

Review Film: Frozen 2
Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang. (Dok. Disney)

Hingga suatu kali, Elsa mendengar suara yang ia duga berkaitan dengan misteri keberadaan hutan ajaib. Dia terus dihantui sampai kemudian berusaha menelusuri sumber asal suara tersebut.

Namun, upaya Elsa justru menjadi petaka. Ia malah membangkitkan roh-roh dari hutan ajaib yang marah sampai kehidupan di Arendelle pun terancam kembali karenanya.

Merasa menjadi penyebab masalah, Elsa memutuskan mencari jalan menuju hutan ajaib demi menyelamatkan Arendelle seorang diri.

Namun, aksi itu dicegah oleh sang adik, Anna yang tak mau lagi kehilangan Elsa. Mereka pun akhirnya pergi bersama, ditemani Olaf, Kristoff, dan Sven.

Dalam perjalanan tersebut, Elsa tak hanya menelusuri akar permasalahan yang terjadi antara Arendelle dan hutan ajaib. Namun ia juga menemukan penyebab yang sesungguhnya atas kematian orangtua mereka sampai sumber kekuatan yang dimiliki.

Lika-liku perjalanan dalam Frozen 2 bukan hanya menguak misteri yang tak terjawab di seri pertamanya, tapi juga menjadi sebuah gambaran proses pendewasaan dan pencarian jati diri dari masing-masing karakter.

Review Film: Frozen 2
Elsa dan Anna, bersama  Olaf, Kristoff, dan Sven berpetualang bersama mencari jawaban soal hutan ajaib. (Dok. Disney)

Olaf contohnya. Ia dengan polos merasa gelisah saat berpikir akan tumbuh dewasa. Ia menganggap menjadi dewasa membuat hal-hal magis tak lagi masuk akal.

Elsa menjadi pribadi yang lebih percaya diri atas segala tindakan yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu, dia berusaha memahami situasi dan mengendalikan diri terlebih dahulu dalam menghadapi masalah.

Namun yang paling utama, Elsa pada akhirnya bisa menerima perbedaan dalam diri dengan kekuatan yang dimiliki.

Sementara Anna, ia terlihat cukup berlebihan di awal karena ketakutan akan sikap sang kakak yang merasa bisa mengatasi sendiri segala sesuatu.

Namun, kali ini dia juga digambarkan mampu mempertimbangkan dampak saat menentukan sikap dan keputusan.

Pribadi karakter-karakter utama itu pun terbentuk atas peristiwa-peristiwa yang telah mereka lalui. Penonton, khususnya penonton Frozen pertama, seolah juga ikut diajak tumbuh berkembang bersama karakter dalam film tersebut.

Bila diperhatikan seksama, pola alur cerita yang ditawarkan Frozen 2 tak jauh berbeda dari pendahulunya. Hal itu cukup terlihat pada penempatan adegan musikal hingga proses Elsa berganti gaun.

Namun yang perlu digarisbawahi, film ini disuguhkan dalam kemasan yang lebih segar.

Tingkah dan humor Olaf sukses menjadi daya tarik utama, bahkan bisa dikatakan lebih menghibur dari yang pertama.

Soal animasi dan sinematografi sudah tak diragukan. Gambar-gambar cantik memanjakan mata sepanjang film. Gaun Elsa di sekuel ini pun menjadi sorotan tersendiri.

Belum lagi, lagu-lagu tema yang tak kalah membekas dan memiliki ‘kekuatan’ seperti seri pertamanya. Ragam genre musik pun menjadi warna baru yang ditawarkan sekuel ini.

Secara umum, Frozen 2 menjadi sebuah sekuel yang membuat hati riang dan mampu membuat penonton menikmati setiap hal magis yang tersuguh.

Frozen 2 menjadi hiburan yang sayang untuk dilewatkan bersama keluarga. Meski cerita terasa lebih ke proses pendewasaan diri, tapi tampaknya sekuel ini masih bisa diterima dan dinikmati oleh penonton anak-anak.

sumber:https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20191122143103-220-450629/review-film-frozen-2

kumau Dia_Andmesh Kamaleng

TABLOIDBINTANG.COM – Setelah Cinta Luar Biasa, Hanya Rindu, Nyaman, Andmesh masih punya lagu lain yang tampaknya akan kembali jadi hit. Judulnya Kumau Dia. Baru kemarin diunggah ke Youtube, video lagu Kumau Dia sudah ditonton lebih dari dua juta kali.

Akankah lagu Kumau Dia milik Andmesh akan menyamai kesuksesan lagu-lagu sebelumnya? Kita lihat saja nanti. Saat ini Andmesh boleh disebut sebagai penyanyi solo yang sukses. Suara khas Admesh juga berperan banyak dalam kesuksesan lagu-lagunya.

Berikut lirik lagu Kumau Dia-Andmesh

Hasil gambar untuk lirik lagu kumau dia andmesh

Kuharap semua ini bukan sekedar harapan
Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan

Biarkan ‘ku menjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya 
Jadi saksi cintaku padanya

Tak main-main hatiku
Apapun rintangannya kuingin bersama dia

Kumau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang slalu ada, kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku

Bukan ‘ku memaksa Oh tuhan
Tapi kucinta dia

sumber:https://www.tabloidbintang.com/lirik-lagu/read/1172/lirik-lagu-kumau-dia-andmesh