Penggiat Budaya dan Pariwisata Bahas Kemajuan Destinasi dan Budaya Subang

Subang terus memperkuat destinasi wisatanya. Berbagai gagasan kreatif pun dimunculkan. Puluhan penggiat budaya dan pariwisata ikut dikumpulkan. Mereka berkumpul dalam diskusi santai bertajuk Ngadu Bako. Pertemuan ini dilangsungkan di Saung Wayang Ajen, Sukamelang, Minggu (20/10/2019).

Hadir dalam diskusi tersebut praktisi budaya Jawa Barat Abah Nanu dan Dr. Endang AS, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud M Khadar Hendarsah, Kasie Sejarah dan Nilai Tradisi Disdikbud Yayan Suryanata, Kabid Destinasi Wisata Disparpora Subang Euis Hartini, Kabid Pemasaran Disparpora Subang Ina Marlina dan Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II, Deputi Bidang pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Dr. H. Wawan Gunawan, S.Sn., MM atau dikenal ki Dalang Wawan Ajen.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman, kegiatan Ngadu Bako sesuai dengan Undang-undang Pemajuan Kebudayaan no 5 tahun 2017. Isinya, kebudayaan perlu dipandang sebagai investasi dalam pembangunan bangsa.

“Untuk itu tata kelola pemajuan kebudayaan perlu diperkuat melalui strategi terarah dan berkelanjutan. Terkait hal itu, Undang-Undang nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, memberi amanat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun masa depan dan peradaban bangsa. Caranya, melalui budaya dalam mendukung pariwisata khususnya di daerah Kabupaten Subang,” tutur Dadang.

Jadi setiap masyarakat khususnya seniman dan budaya, secara bersama mendukung penguatan budaya dalam kaitan dengan pariwisata di daerah Kabupaten Subang.

Dadang juga menilai potensi wisata Subang sangat luar biasa. Apalagi jaraknya dari Jakarta relatif dekat. Hanya sekitar 3 jam. Potensi wisata Subang yang dapat dikunjungi, terdiri dari wisata alam hingga wisata budaya. Ada wisata gunung Tangkuban Parahu dan Sari Ater. Ada juga kesenian khasnya yaitu Sisingaan dan buah tangannya yaitu Nanas Si Madu yang sudah cukup populer.

“Atraksi wisata yang menarik ini didukung oleh amenitas yang lengkap yaitu dengan banyaknya pilihan hotel dan rumah makan di Subang. Aksesibilitas juga cukup baik dengan adanya jalan tol Cipali. Kemudian bandara Kertajati yang cukup ditempuh dengan 1 jam perjalanan dan rencana dibangunnya pelabuhan internasional Patimban,” papar Dadang.

Asdep Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional II Kemenpar, Wawan Gunawan, mengatakan agar Kabupaten Subang lebih dikenal lagi, 3 kunci pengembangan wisata harus dilakukan. Yaitu atraksi, amenitas dan aksesibilitas.

“Untuk menarik lebih banyak wisatawan, Kabupaten Subang perlu menggali lagi potensi wisata yang dapat dikembangkan termasuk wisata budaya,” papar Wawan.

Dalam paparannya, strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya dan masyarakat, Dr. Wawan Gunawan mengatakan perlu adanya data yang lengkap terlebih dahulu mengenai budaya di Kabupaten Subang. Dari sana kemudian dilakukan kurasi seni budaya mana yang akan diunggulkan untuk kemudian diangkat dalam event wisata.

Dirinya mengatakan unsur pertama yang harus ada dalam membuat sebuah event wisata adalah CEO Commitment yaitu komitmen yang kuat dari kepala daerahnya baik itu Bupati, Wakil Bupati dan Sekretaris daerah kemudian Kepala Dinas terkait untuk mengembangkan pariwisata daerahnya.

“Selain CEO Commitment unsur penting lainnya dalam penyelenggaraan sebuah event pariwisata adalah Creative value, Commercial value, Communication Value, dan Konsitensi penyelenggaraan event tersebut,” katanya.

Selain itu, katanya, agar penyelenggaraan event tersebut dilirik wisatawan maka penyelenggaraan event tersebut harus mempunyai standar nasional dan internasional dalam kemasannya, baik dari segi koreografi, arrangement music, maupun penataan kostum atau busana.

Sementara itu, Mas Nanu Muda alias Abah Nanu berharap bahwa setiap aktivitas dalam pemajuan budaya pariwisata harus juga mempertimbangkan berbagai aspek. Terutama pentingnya melibatkan masyarakat. Sehingga ketika sebuah destinasi dibuat berdampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud M Khadar Hendarsah menyambut baik digelarnya acara Ngadu Bako tersebut.

“Kegiatan ini membuka ruang, karena di sini berkumpul praktisi-praktisi budaya maupun pariwisata. Bukan hanya ngobrol, tapi menjadi bahan evaluasi dalam mengelola kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Subang,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat mengapresiasi kegiatan ini, budaya harus dilestarikan. Karena, Budaya semakin dilestarikan semakin menghasilkan.

“Dan ini akan bagus impact-nya buat masyarakat. Sebab 60 persen wisatawan datang ke Indonesia itu karena culture-nya” kata Mempar Arief Yahya.

sumber:

paket wisata candi borobudur tahun 2020: sarapan hingga peduli budaya.

Ditjen Bina Marga membangun akses jalan dan jembatan untuk mendukung program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Pemerintah telah menetapkan 5 KSPN destinasi super prioritas, salah satunya yakni Candi Borobudur.

JAKARTA, KOMPAS.com – Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan. Jika biasanya wisatawan hanya menikmati suasana candi dengan berfoto atau melihat stupa, kini wisatawan bisa mencoba dua paket wisata baru dari Candi Buddha terbesar di dunia. Sekretaris PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Emilia Eny Utari mengatakan wisatawan dapat mencoba dua paket wisata baru yang ada di Candi Borobudur, yaitu Paket Cinta Budaya dan Peduli Budaya, serta Borobudur Breakfast. “Harganya untuk paket Cinta Budaya dan Peduli Budaya itu Rp 60.000 per orang dengan minimal 30 orang, terus Borobudur Breakfast itu dibagi lagi untuk wisatawan nusantara dan mancanegara harganya,” kata Emilia ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (7/1/2020).

Wisatawan yang memilih paket Cinta Budaya dan Peduli Budaya akan mendapatkan fasilitas berupa akses masuk melalui jalur khusus, Museum Borobudur dan menyaksikan pemutaran film tentang Candi Borobudur. “Selain itu, ada juga jasa pemandu wisata, air mineral, dan berkeliling dengan menggunakan kereta taman,” lanjutnya. Sementara untuk paket Borobudur Breakfast, Emilia menguraikan harga paketnya berbeda-beda. Harga Borobudur Breakfast untuk wisatawan mancanegara terbagi atas tiga kategori usia: dewasa, anak, dan pelajar.

Wisatawan mancanegara dewasa dikenakan biaya Rp 500.000, anak Rp 250.000 usia tiga sampai 10 tahun, dan pelajar usia lebih dari 10 tahun sebesar Rp 400.000. Sementara untuk harga paket wisata bagi wisatawan nusantara adalah dewasa Rp 370.000; anak Rp 185.000, usia tiga sampai 10 tahun; dan pelajar Rp 280.000, untuk usia lebih dari 10 tahun. Wisatawan dapat menikmati berbagai fasilitas dalam paket Borobudur Breakfast seperti Borobudur Sunrise, belajar melukis batik, musik tradisional, kerajinan gerabah, dan mencicipi makanan tradisional. “Wisatawan juga bisa sarapan di Manohara Restaurant,” tambah Emilia.

sumber:

Danrem Abepura Akui Kehebatan Jiwa Seni Generasi Muda Papua

Sorong, Semarak.News – Komandan Korem 172/PWY Kolonel Inf J Binsar Parluhutan Sianipar menilai bahwa para generasi muda Papua memiliki jiwa seni yang patut dibanggakan, karena sejumlah hasil karya mereka layak untuk dipentaskan tingkat nasional bahwa internasional.

“Banyak dari karya mereka yang dapat dikatakan mampu bersaing ditingkat nasional bahkan di dunia Internasional,” katanya saat menghadiri pembukaan Kegiatan Pemeran Seni Rupa dengan tema Ekspresi Noken 2019 yang diselenggarakan oleh Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI di Mall Ramayana, Distrik Abepura, Jayapura, Rabu.

Menurut dia, Papua ini memiliki anak-anak muda yang berjiwa seni yang luar biasa, bisa dilihat dengan hasil karyanya yang ditampilkan dalam pameran itu.

“Tinggal nanti bagaimana kita masyarakat dan pemerintah serta melalui dunia pendidikan dapat mengembangkan mereka. Tadi saya melihat hasil karya mereka sudah seperti yang saya lihat di Taman Ismail Marzuki Jakarta,” katanya.

“Bisa dikatakan bahwa di dunia seni di Papua ini memiliki potensi dan memiliki peluang untuk bisa mendunia dari lukisan dan juga tari-tarian yang ditampilkan nilai seninya saya pikir luar biasa tinggi,” sambungnya.

Binsar berharap kedepannya akan semakin banyak generasi muda Papua yang menghasilkan karya seni yang dapat mengharumkan nama Papua tidak hanya tingkat nasional tetapi juga Internasional.

Sementara itu Rektor ISBI, Prof Dr I Wayan Rai, MA mengatakan kegiatan yang dilaksanakan dari 20-26 November 2019 tersebut memamerkan berbagai hasil karya anak muda Papua.

“Disini, para pengunjung dapat melihat bagaimana seniman-seniman generasi muda Papua mengekspresikan bathinnya dan jiwanya kedalam bentuk karya seni yang terinspirasi oleh noken,” katanya.

Menurut dia kegiatan itu penting sekali dalam rangka penyebarluasan noken sesuai dengan UUD nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.

“Kita ingin menyebarkan ini lewat karya-karya baru, karya-karya anak-anak milenial dengan tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional sehingga dengan demikian mereka akan tetap mencintai tradisi leluhur mereka dan kita sesuaikan dengan perkembangan zaman”, katanya.

Sumber:https://semarak.news/nasional/sosial-budaya/danrem-abepura-akui-kehebatan-jiwa-seni-generasi-muda-papua/

Lestarikan Budaya, Seniman Iran Hingga Amerika Tampil di Purworejo

Purworejo – Purworejo menggelar Sawunggalih Art Festival 2019. Seniman dari Iran sampai Amerika pun unjuk gigi.

Guna melestaraikan budaya, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah gelar Sawunggalih Art Festival 2019. Event yang sekaligus menjadi atraksi wisata itu tak hanya diisi seniman Purworejo dan sekitarnya saja, namun seniman dari Jerman, Iran hingga Amerika Serikat juga ikut meramaikan acara.

Sawunggalih Art Festival (Safest) 2019 digelar di Stasiun Kereta Api Purworejo lama pada Sabtu (2/11/2019) sejak sore hingga larut malam. Para seniman yang tampil tak hanya berasal dari Purworejo, Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya, namun juga dari luar negeri seperti Jerman, Iran hingga Amerika Serikat.

“Yang ngisi bukan cuma seniman dari Purworejo dan kota lain namun juga dari Jerman, Iran dan Amerika Serikat,” kata ketua panitia penyelenggara, Nungki Nur Cahyani ketika ditemui detikcom di sela-sela acara.

Lestarikan Budaya, Seniman Iran Hingga Amerika Tampil di Purworejo


mungki menambahkan, Safest 2019 sengaja digelar untuk melestarikan budaya yang ada di Indonesia sekaligus sebagai ajang silaturahmi untuk mempersatukan masyarakat tanpa sekat. Tak hanya memamerkan pertunjukan, Safest juga didahului dengan workshop untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Tujuannya untuk melestarikan budaya Indonesia sekaligus ajang silaturahmi seni, karena kesenian jadi sarana untuk mempersatukan berbagai kelas sehingga bisa duduk sejajar tanpa perbedaan ras, suku dan lain-lain. Tadi juga ada workshop, jadi tidak hanya pertunjukan dan menghibur tapi bisa memberikan edukasi kepada masyarakat,” lanjutnya

Adapun gelaran seni dengan nama Sawunggalih Art Festival 2019 ini sendiri memiliki kaitan dengan sejarah yang ada di Purworejo. Menurut cerita, Sawunggalih adalah seorang tumenggung handal, cerdas dan sakti dari Keraton Mangkunegaran Surakarta pada zaman dahulu. Tumenggung yang memiliki banyak kelebihan itu berasal dari daerah Kutoarjo, Purworejo.

Selain Sawunggalih, pemilihan tempat acara di sebuah stasiun yang dibangun pada awal tahun 1800 an oleh Belanda itu juga memiliki maksud agar masyarakat juga mengingat sejarah di masa silam. Berbagai pertunjukan musik, lagu hingga tarian pun tersaji dengan apik.

Lestarikan Budaya, Seniman Iran Hingga Amerika Tampil di Purworejo

Tema ‘Heaven and Earth’ yang diambil juga mencoba memberi pemahaman kepada masyarakat untuk lebih bisa mencintai tanah leluhur, lebih membumi dalam bersikap dan berfikir karena bumi leluhur adalah surga yang patut dijaga.

“Purworejo ini adalah kotanya para petinggi hebat dan para jenderal bahkan jenderal perang pada zaman dahulu. Harapannya masyarakat bisa lebih tergugah lagi mencintai aset budaya dan bangga dengan kotanya sendiri, bisa lebih mencintai tanah leluhur karena tanah kita merupakan surga,” imbuhnya.

Lestarikan Budaya, Seniman Iran Hingga Amerika Tampil di Purworejo

ara seniman bertalenta pun silih berganti menyajikan penampilan terbaik mereka. Memadukan latar panggung yang sempurna dalam balutan bangunan heritage masa silam, totalitas eksplorasi seni yang disajikan mengundang riuh tepuk tangan masyarakat yang hadir.

Salah satu seniman asal Amerika Serikat, Danny Martin merasa senang bisa ikut meramaikan festival. Setelah latihan selama sekitar sebulan, Ia pun tampil apik dengan membawakan musik tradisional asal Bali yang dipadukan dengan musik kontemporer.

“Saya suka musik elektronik dan musik tradisional, makanya saya tampil dengan musik gamelan dari Bali yang saya tampilkan secara remiks, ini saya ekaplorasi,” ucap Martin

https://travel.detik.com/travel-news/d-4770493/lestarikan-budaya-seniman-iran-hingga-amerika-tampil-di-purworejo?_ga=2.13690551.140594133.1574646201-1905048196.1569420986